Selasa, 02 September 2008

VANDALISME : PERUT ATAU SABOTASE



Kompetisi sudah brutal ! Itulah statemen EGM Telkom Sumatra Muhammad Awaluddin dalam beberapa kali pertemuan. Brutal, tentu saja bukan dalam aspek harga tapi diduga sudah sampai pada upaya merusak alat produksi kompetiornya. Adakah kita merasa, bahwa beberapa kasus vandalisme di Medan saat ini bukan lagi disebabkan perut tapi sudah berubah dengan modus baru : kompetisi.

Saat ini, Telkom sudah melakukan berbagai strategi melawan kompetitor dengan menyiapkan SDM yang handal dan alat produksi yang baik. Tapi apa jadinya, kalau alat produksi, sebutlah jaringan kabel, di’kadali’ dengan dirusak dibanyak lokasi. Kita masih saja menyebutnya sebagai vandalisme dengan modus pencurian karena latar belakarng kemiskinan, demi perut dan untuk makan. Tapi ada indikasi, pencurian dilakukan secara terencana dengan maksud menghancurkan Telkom dimata pelanggan. Bisakah kita menyebutnya sebagai sabotase ?

Dengan banyak dan seringnya kabel atau alat produksi di curi suatu saat Telkom tidak bisa lagi merecoverynya sehingga Telkom berpotensi kehilangan pelanggannya. Saat ini saja sudah 5000 pelanggan Telkom yang menjadi korban vandalisme itu. Beberapa diantaranya sudah direplece dengan FlexiHome. Tapi jumlahnya yang belum diganti masih lebih banyak. Dalam kondisi Telkom lambat atau bahkan tidak mampu merecoverynya maka operator lain pun jor-joran menawarkan produknya.

Dugaan ini muncul setelah melihat berbagai fakta dilapangan di mana banyak kasus vandalisme terjadi setelah berdirinya BTS operator lain. Salah satu contohnya di STO Tembung. Tembung adalah lokasi vandalisme paling tinggi. Anehnya, pencurian atau pemotongan jaringan kabel tembaga da FO (Fiber optic) dilakukan secara acak saja. Bahkan ada saksi mata yang melihat, kabel telepon dipotong oleh seseorang yang turun dari sebuah mobil inova dan kemudian pergi setelah kabel telepon diputus. Anehkan ? Bukankah ini indikasi sabotase ?

Demikian dengan investigasi dilokasi lainnya. Ketika berdiri Tower serupa diseputar Ds Sei Rotan, sehingga kabel Telkom yang ada di sepanjang Jl. Batang Kuis Tembung Deli Serdang yang dicatu dari Kabinet RD dan RB STO Tembung juga dihabisi, sudah berkali-kali di recovery, dicuri lagi, dan untuk recovery berulang sudah meng habiskan biaya ratusan juta bahkan mungkin sudah miliaran. :

Hal yang sama di lokasi tower diseputar Menteng , Laut Dendang, Jl. Amal Ring Road, Pasar II Jl. Setia Budi ( belakang Univ.Methodis ) STO PDB, Titi papan Tanjung Mulia, Labuhan Belawan, Ngumban Surbakti ( dekat kantor Meteorologi ), Tanjung Anom, Tanjung Morawa ( dibelakang STO Tanjung Morawa ), KM 12 Medan Binjai dan masih banyak daerah lain mengalami nasib yang sama.

Bisakah kita menyepakati modus baru ini sebagai strateginya kompetitor untuk merusak citra Telkom ? Sabotase ? Kalau ya, seharusnya disusun langkah dan strategi baru untuk menghentikannya. Seharusnya, masalah ini tidak lagi wacana dan kerja !

Tidak ada komentar: