Minggu, 07 September 2008

LASKAR PELANGI & MUHAMMADIYAH


Aku merasa begitu dekat dengan novel tetralogi Laskar Pelangi (Andrea Hirata/ foto kiri). Tiga novelnya sudah kulahap begitu cepat. Novel pertama ” Laskar Pelangi” bisa aku sudahi hanya dalam waktu dua hari. Lalu aku melanjutkan novel kedua ”Sang Pemimpi” dan novel yang ketiga ”endesor”. Aku kini menunggu tetralogi yang terakhir ”Maryamah Karpov”. Sayang novel keempat ini belum terbit dan kemudian geger Laskar Pelangi pun dilanjutkan dengan pembuatan filmnya.

Kenapa aku begitu tertarik dengan Laskar Pelangi ? Alasan pertama, Andrea Hirata mampu memberikan suguhan cerita yang inspiratif. Aku seakan begitu dekat dengan cerita yang disuguhkan. Tapi yang pasti latar belakang sekolah Muhammadiyah di Belitong ( foto atas) dengan ibu guru Muslimahnya, mengingatkan aku ketika masih bersekolah di SD Muhammadiyah, Jln Pahlawan, Medan Timur.

Begitulah sekolah Muhammadiyah kebanyakan. Sederhana dengan guru yang penuh dedikasi. Aku mengenak seorang guru namanya Tholib Lubis, selain guru ia juga adalah nenekku. Pak Guru Tholib Lubis ini, sama saja dengan bu Muslimah, ia mengajar nyaris tak bergaji. Pensiunan polisi itu datang kesekolah dengan sepedanya. Ia merupakan guru yang paling disenangi muridnya karena keterampilannya bertutur tentang tarikh nabi.

Begitulah sekolah Muhammadiyah yang dibangun sendiri oleh warga Muhammadiyah dengan urunan. Tapi perannya demikian besar pada upaya peningkatan sumber daya manusia Indonesia ketika pemerintah belum memiliki kemampuan membangun infrastruktur sekolah yang banyak. Aku kira sampai saat ini, Muhammadiyah, terutama dipelosok, masih memiliki sekolah atau madrasah yang sama dengan sekolahnya ’Laskar Pelangi’ di Belitong.

Seperti apa dedikasi Muhammadiyah terhadap dunia pendidikan memang tergambar dengan sangat kental pada Laskar Pelangi. Bagi yang malas membaca tetraloginya, mulai 25 September ini dapat menyaksikan ceritanya melalui film.

Tidak ada komentar: