Catatan : Syaiful Hadi J.L
OBAMA akan mngunjungi Indonesia beberapa hari ke depan. Kunjungan Presiden Amerika itu disambut pro dan kontra. Yang setuju, tentu saja menyambut kehadiran Obama dengan sukacita tapi yang kontra tentu saja menyampaikan penolakannya. OBAMA, seperti presiden Amerika lainnya, di mata masyarakat Indonesia tetap saja presiden negara adidaya yang pro Yahudi dan menindas Palestina. Suka atau tidak atas kedatangan Obama yang pernah sekolah SD di Menteng itu, tapi yang pasti sebuah film yang bercerita tentang sikap rasialis rakyat Amerika sedang diputar di sini. Judulnya : My Name is Khan !
Film box office ini tidak saja ’meledak’ di Indonesia tapi juga di Amerika dan beberapa negara Eropa lainnya. Di Medan, untuk menyaksikan film ini harus mendapatkan tiket secara antre. Di awal pemutaran banyak yang kecewa karena tidak mendapatkan karcis masuk yang harganya Rp 40 ribu. Sudah lebih dari tiga minggu, bioskop 21, tetap saja penuh. Seperti apa, sih, film My Name is Khan ? Yang pasti tidak ada korelasi langsung antara kunjungan Obama dan film My Name is Khan walau pun pada akhir film, Khan ( baca Risvan Khan) akhirnya bertemu dengan Obama dan menyampaikan bahwa ia bukanlah teroris.
My name is Khan bercerita tentang sosok Rizwan Khan, seorang muslim India yang sejak lahir menderita Sindrom Asperger (Asperger syndrome), sebuah gejala autisme dimana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.
Uniknya penderita sindrom ini memiliki IQ yang relatif tinggi sehingga dianggap cerdas walau terkadang minim emosi layaknya manusia normal. Bersama sang ibu yang janda (Zarina Wahab), Rizwan tinggal bersama adiknya Zakir Khan (Jimmy Shergill) di wilayah kumuh Borivali-Mumbai.
Pada usia 18 tahun, sang adik mendapatkan beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat. Tidak berapa lama kemudian sang ibu meninggal dunia karena sesak nafas. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, sebuah pesan diberikan untuk Rizwan, sang ibu berpesan padanya untuk terus mengejar kebahagiaannya sendiri.
Zakir lalu memboyong Rizwan untuk tinggal bersamanya di San Fransisco dan memberikan pekerjaan sebagai sales obat kecantikan di perusahaannya. Istri Zakir, Haseena (Sonya Jehan) seorang dosen psikologi adalah orang pertama yang merasakan “keanehan” tingkah Rizwan.
Dari situ akhirnya dideteksi kalau Rizwan menderita Sindrom Asperger. Lewat sejumlah terapi, Rizwan akhirnya bisa hidup mandiri di San Fransisco yang keras sebelum akhirnya jatuh cinta dengan Mandira (Kajol), janda beranak satu yang membuka salon kecantikan di San Fransisco.
Bagi Rizwan, sosok Mandira adalah salah satu bentuk kebahagiaan yang selama ini dicarinya seperti pesan sang ibu sebelum meninggal. Walaupun sempat ditentang oleh sang adik karena perbedaan agama antara Rizwan yang muslim dengan Mandira yang Hindu, namun pernikahan mereka berjalan harmonis.
Kehidupan keluarga yang harmonis antara Rizwan, Mandira dan sang anak semata wayang mereka, Sameer (Yuvaan Makaar) berubah total saat sejumlah teroris yang mengatasnamakan agama dan suku menyerang menara kembar World Trade Center di New York.
Sebuah peristiwa memilukan kemudian terjadi dalam keluarga kecil Rizwan dimana mereka harus kehilangan Sameer yang dibunuh secara sadis oleh teman sekolahnya karena isu rasial. Mandira yang terpukul, dan seakan menyesali perkawinannya dengan lelaki bermarga (fam) Khan itu. Perkawinan dengan pria muslim itulah sebagai penyebab tewasnya Sameer, putra satu-satunya. Karena rasa kecewanya yang demikian dalam, Madira mengusir Risvan. Mandira mengultimatum Rizwan untuk tidak boleh kembali sebelum dia memberitahu Presiden Amerika Serikat bahwa dirinya bernama Khan dan bukan teroris.
Rizwan yang putus asa karena harus berpisah dengan orang yang dicintainya lalu memulai petualangannya melintasi berbagai negara bagian Amerika Serikat demi bertemu dengan calon Presiden Barrack Obama yang sedang berkampanye keliling Amerika. Tekadnya hanya satu, memberitahu Presiden Amerika Serikat terpilih bahwa namanya adalah Khan dan dia bukan teroris.
Peristiwa hancurnya WTC, 9/11, memang telah merubah banyak hal khususnya dirasakan oleh umat Muslim di Amerika Serikat yang tertekan akibat dianggap sekutu terorisme. Muslim Amerika merasakan sebuah tekanan yang sangat menakutkan. Setiap yang berbau Islam pasti akan mendapatkan tekanan, baik pemerintah maupun masyarakat sipil Amerika. Misalnya, Rizwan harus menghabiskan banyak waktu di pos pemeriksaan bandara karena dicurigai teroris.
Setelah tragedi WTC itu, hidup Rizwan berubah total karena dia menjadi sasaran diskriminasi hanya karena nama Khan yang disandangnya karena Khan merupakan nama yang sangat berbau Islam. Rizwan pun kemudian melakukan perjalanan untuk bertemu dengan Presiden AS demi menyampaikan pesan bahwa dirinya bukanlah teroris. Untuk itu pun Rizwan sempat ditangkap, bahkan dipenjara karena dicurigai teroris.
Rakyat Amerika harus belajar dari film India yang satu ini. Mereka harus lebih mengerti arti perbedaan, termasuk keyakinan bergama. Rakyat Amerika harus belajar tahu lebih banyak tentang Islam yang sesungguhnya. Bukan Islam yang dipersepsi dengan perang, darah, bom bunuh diri, dlsb. Rakyat Amerika harus tahu bahwa Islam sesunggunya adalah Rahmatil alamin, kasih sayang dan sangat menghargai perbedaan. Selama Amerika, masih memiliki persepsi bahwa Islam ada teroris, itu akan masalah sesungguhnya.
Kasus rontoknya WTC memang tidak akan pernah dilupakan. Tapi apa fakta sesungguhnya dari kasus itu ? Amerika tidak pernah membukanya dengan jelas melainkan menutupi banyak fakta dan kemudian menjadikannya alasan untuk menyerang negara muslim dibelahan bumi yang lain.
My Name is Khan telah memberikan kita sebuah pelajaran berharga bahwa menjadi berbeda, termasuk berbeda keyakinan, bukanlah kesalahan. Seperti kata Ibu Rizvan, hanya ada dua jenis orang di dunia. Orang yang berbuat baik, dan orang yang berbuat buruk. Tak peduli apa keyakinannya. Apakah Obama mengerti itu ? ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar