GOLKAR MELAWAN
Catatan : Syaiful Hadi J.L
Semua orang tau, kalau politisi Golkar adalah politisi ulung. Golkar punya pengalaman yang panjang ( termasuk PPP dan PDI-P ) dalam percaturan politik negeri ini. Dalam bahasa politiknya, Golkar memiliki ‘pemain tua’ yang lihai bernamuver. Trik dan taktik Golkar selalu menjadi amatan analis politik karena biasanya, selalu melahirkan daya kejut yang sangat kuat. Terakhir, lihatlah bagaimana manuver Golkar masuk ke koalisi pemerintahan SBY. Padahal sebelumnya Golkar berada diluar ring koalisi dengan mencalonkan JK dan Wiranto sebagai presiden. Tapi begitu calon dari Golkar kalah, maka maneuver pun disusun. Golkar sukses masuk ke koalisi pemerintahan SBY. Hebat!
Taktis dan jitu. Tiba-tiba saja, Golkar sudah ada di dalam koalisi. Tentu saja, sukses Golkar ini, membuat meradang partai koalisi yang sudah menandatangani komitmen ‘setia’ sejak awal kampanye untuk memenangkan pasangan SBY-BOEDIONO. Tapi tak Golkar namanya, kalau tidak melakukan maneuver. Kali ini, maneuver baru polkitisi Golkar adalah, bersikap beda pada kasus Bank Century di mana Golkar tidak sejalan dengan koalisi induknya : DEMOKRAT. Memang Golkar tidak sendiri. PKS, bahkan PAN, berada diluar jalur koalisi. Tinggallah Demokrat dan PKB yang memberikan penilaian kasus Century sebagai kebijakan yang benar. Kali ini, Demokrat + PKB berhadapan dengan 7 pendapat yang berbeda ( PDI-P, GOLKAR, PAN, PKS, PPP, HANURA dan GERINDRA).
Tentu saja, semuanya masih bergulir. Tim Pansus Bank Century masih bekerja hingga Maret nanti. Masih banyak kemungkinan yang akan terjadi. Pertanyaannya adalah : seperti apa manuver Golkar selanjutnya. Bila Golkar konsisten dengan pandangan fraksi yang disampaikan pada kesimpatan awalnya, maka sidang paripurna kasus Bank Centuty akan sangat menarik. Adakah posisi 7 : 2 akan tetap bertahan ? Golkarlah kuncinya.
Kini, suasana panas Golkar vs Demokrat pun semakin panas saja. Partai Demokrat menjelang pembacaan pendapat awal pansus, melakukan manuver yang salah. Sekjen Demokrat Amir Syamsuddin menyampaikan usulan resuffle untuk menteri Kabinet SBY yang baru berusia 100 hari. Usulan Amir dan Mubarok, Wakil Ketua, tentu saja menyambar emosi banyak politisi tua di Golkar. Golkar dan partai koalisi lain, termasuk PKS, dinilai sudah berkhianat. Maka perdebatan seputar resuffle pun mewarnai diskusi politik di negeri ini.
Golkar dan PKS tentu saja adalah dua partai koalisi yang berang dengan suara resuffle yang sebenarnya menjadi domain dari SBY bukan Parti Demokrat. Yang terjadi kemudian adalah balasan Golkar dan PKS : Siapa Takut. Artinya, kedua partai koalisi itu tidak takut dengan ancaman resufle. Bahkan Ketua DPP Golkar Aburizal Bakrie, mengeluarkan statemen yang sangat keras: ‘’ Saya tidak pernah bisa mengancam, tapi jangan coba andam saya,” kata Aburizal.
Statemen Aburizal Bakrie itu disampaikan setelah ia mengumpulkan seluruh menteri dan anggota DPR dari Golkar di Jakarta , Rabu (10/2). Statemen lainnya adalah, Golkar tak akan mundur dalam pengusutan kasus Bank Century. Aburizal mengatakan, Golkar berkoalisi dengan Presiden Yudhoyono demikian juga dengan partai Demokrat berkoalisi dengan Yudhoyono. Artinya, dalam koalisi adalah sama. Dengan demikian Demokrat tidak bisa memberi penilaian atas menteri-meneteri dari Golkar.
Dalam statemen Aburizal yang lebih keras dikatakan, “ Golkar juga siap menerima apapun keputusan Presiden terkait perombakan kabinet. Saya kira semua kader Golkar juga akan siap untuk menerima keputusan presiden,”
Pernyataan Aburizal ini kemudian diperkuat oleh menteri-menteri SBY dari Golkar seperti Agung Laksono, Fadel Muhammad. Keduanya mengatakan, perombakan kabinet merupakan hak presiden. Tergambar sudah bahwa Golkar (kali ini ) tidak takut dengan ancaman Demokrat.
Masalahnya adalah, seperti apa skenario ancaman itu terjadi. Kini, banyak pihak yang menyalahkan Amir Syamsuddin (Sekjen) dan Ahmad Mubarok (Wakil Ketua) Partai Demokrat yang dianggap salah kaprah, masuk ke domain yang bukann wewenangnya. Benarkah Amir Syamsuddin dan Mobarok salah kaprah ? Tidak juga. Kedua dedengkot Demokrat itu tentu saja tidak asal bunyi. Keduanya, pasti sudah melakukan skenario yang dipatrun partai untuk menguji reaksi publik termasuk reaksi politisi Golkar dan PKS.
Cara-cara ini sudah sering dilakukan Yudhoyono untuk mengetahui opini publik. Bila pasar bereaksi keras biasanya SBY akan diam dan mengambil kebijakan yang berbeda. Lalu, seperti apa ending isu resuffle kali ini ?. Banyak analis yang menduga, SBY tidak akan berani melakukan resuffle kabinetnya. Apalagi, Golkar dan PKS tampak tak bergeming dengan ancaman itu, bahkan mempersilahkan SBY melakukan resuffle, dan mereka siap!
Seandainya, resuffle dilakukan, maka komposisi anggota legeslatif akan berubah total. Domokrat bersama PKB termasuklah di dalamnya PAN dan PPP akan berhadapan dengan GOLKAR, PKS dan partai opisisi yang sudah ada. Beranikah SBY ? Semua orang geleng kepala. SBY tidak berani. Sehingga tampak sikap presiden yang selama ini ragu-ragu, tak jelas, lambat dlsb menggambarkan ketidakberaniannya merubah kabinet yang berisko merusak komposisi koalisi vs oposisi.
Kini, Golkar melawan, Siapa takut. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar