Sabtu, 30 Januari 2010

DERITA ROSMAWI DARI PAKANTAN, MENGUJI KEBIJAKAN SYAMSUL ARIFIN

( I )

Cahaya matahari mulai membakar embun yang menempel di denaunan. Penduduk di kaki Gunung Kulabu, pria dan wanita, tampak seperti biasa. Pagi hari, mereka berangkat ke kebun, menyiangi tanaman kopi dan karet. Ada juga yang pergi lebih jauh menguliti kulit manis. Roda kehidupan penduduk desa Hutatoras, Pakantan, Kabupaten Mandailing Natal itu tak dinikmati Rosmawi (53) karena tumor yang menyerang perutnya. Jangankan ke kebun, untuk berdiri saja itu tak kuasa. Perutnya membesar dan ia merasakan sakit yang berkepanjangan.

Derita yang berawal di tahun 2007 lalu menumpuk kecemasan yang demikian dalam bagi perempuan miskin itu. Ia sudah berusaha mencari pengobatan ke kota. Dia juga sudah mendapatkan hasil diagnosa dokter. Tumor menyerang bagian perutnya hingga membesar. Solusinya adalah : Operasi ! Tapi kata operasi bukanlah sesuatu yang enak didengar bagi Rosmawi. Bersamaan dengan vonis operasi itu, maka Rosmwai harus menyediakan uang yang tidak sedikit. Untuk operasi dibutuhkan paling sedikit Rp 7 juta. ( Suara Masa 243/ 27 Jan 2010). Jangankan untuk menyediakan uang sebanyak itu. Untuk biaya hidup sehari-hari pun Rosmawi, juga anaknya yang menjadi tompangannya di Tebing Tinggi, sudah demikian sulit.

Rosmawi dan anaknya tidak punya pilihan lain selain kembali ke Pakantan dan kemudian mencari solusi termurah : Alternatif. Dulu, orang menyebutnya sebagai berobat ke dukun kampung. Derita Rosmawi adalah derita banyak anak bangsa ini. Sebutlah, Gizi Buruk, TBC, HIV-AIDS, dan berbagai jenis penyakit yang banyak diderita penduduk miskin.

( II )

Penderitaan Rosmawi memang sudah mendapat perhatian dari aparat pemerintahan setempat. Camat Pakantan Drs. Parlin Lubis terpanggil dan prihatin dengan penderitaan Rosmawi. Camat baik budi itu pun akan berusaha mencari solusi bagi kesembuhan Rosmawi. Katanya, ia akan melakukan koordinasi dengan dokter Puskesmas Pakantan atau melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Madinia.

Koordinasi yang coba diupayakan Camat Pakantan, bolehlah diacungkan jempol. Kita berharap, usaha kemanusiaan bagi Rosmawi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh gagal. Karena ini adalah sebuah ujian bagi kebijakan pemerintah untuk peduli kepada kesehatan rakyatnya. Khusus untuk, Provinsi Sumatera Utara, maka derita Rosmawi adalah ujian bagi kebijakan Gubernur Syamsul Arifin untuk komitmennya : rakyat tidak bodoh, rakyat tidak sakit, rakyat tidak miskin dan rakyat tidak lapar. Adakah Syamsul Arifin – tentu saja diikuti untuk stafnya di level bawah, bupati/walikota, kepala dinas kesehatan, camat sampai kepala desa mau peduli.

Memang disayangkan, kebijakan Pemprovsu dibidang kesehatan masih belum terlihat sungguh-sungguh. Komitmen untuk menjadikan rakyat tidak sakit, masih sebatas lipservice, retorika seorang gubernur yang memang ahli bermain kata-kata. Hampir setahun Syamsul memimpin daerah ini, kita belum melihat kebijakan mendasar yang dilakukan Syamsul agar rakyat tidak sakit. Opini publik yang terekam di berbagai media, tercatat, Syamsul masih disibuki dengan hal-hal yang jauh dari komitmennya.

Tindakan yang dilakukan Camat Pakantan sudah benar. Koordinasi sudah dilakukan. Masalahnya adalah : bisakah Rosmawi mendapatkan pelayanan medis terbaik ? Bisakah ia kembali menikmati keceriaan, desa Hutatoras, Pakantan yang teduh dibalut dinginnya Gunung Kulabu itu ? Sebuah tantangan bagi Camat Pakantan pula, sejauh mana ia sebagai seorang pejabat, mampu memberi solusi bagi warganya.

III

Menyimak kasus penderitaan Rosmawi, menjadikan kita berpikir ulang, apakah pemerintah memikirkan penderitaan rakyatnya secara sungguh-sungguh. Terlalu banyak cakap dan teori, akhirnya menjadikan rakyat apatis dan semakin tidak percaya. Sudah terlalu banyak konsep pelayanan kesehatan yang diberikan, tapi rakyat miskin tetap saja sulit menikmatinya. Surat Miskin, masih harus diperoleh dengan mengeluarkan uang tip’s bagi pejabat dikelurahannya. Surat miskin juga tidak menjamin mereka mendapatkan pelayanan. Mereka masih di’bola’ kesana-kemari. Kalau mendapat layanan, itu adalah layanan paling minimal.

Lihatlah apa yang terjadi di Sumatra saat ini. Anggota Komisi E DPRD Sumut Nurhasanah S.Sos., menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi anggaran kesehatan di Sumatera Utara, yang terus mengalami penurunan setiap tahun. “Ini sungguh mengherankan, serta tidak sejalan dengan visi-misi Gubsu Syamsul Arifin yang menyatakan ingin agar rakyat tidak sakit. Itu artinya visi Gubsu cuma sekadar lip-service belaka,” kata Nurhasanah, mantan wartawati yang kini menjadi politisi partai Demokrat itu.

Disebutkan, anggaran kesehatan Sumut dalam APBD terus mengalami penurunan. Pada Tahun Anggaran 2008 tercatat dianggarkan Rp 108,8 miliar. Tahun berikutnya menurun menjadi Rp 74,9 miliar. Kemudian menurun lagi menjadi Rp 48,9 miliar. Apa arti penurunan ini. Adakah ini bukti, memang Gubernur Sumatera Utara, tak peduli dengan kesehatan rakyatnya ? Adakah memang Syamsul Arifin, sudah lupa janjinya ?

Rosmawi, masih terbaring di Mandailing saja. Rosmawi mungkin tidak pernah mendengar janji Syamsul Arifin yang manis, ketika ia menyampaikan visi dan misinya sebagai seorang calon gubernur dan saat ia dilantik itu. Tapi semoga aparat terdepan, Camat Pakantan, bisa menyelesaikan derita warganya. Karena derita Rosmawi, sekaligus ujian atas janji-janji gubernurnya. *** Syaiful Hadi J.L

Tidak ada komentar: