
Dalam hidup ini, sesuatu yang kita prediksikan, terkadang berbeda dengan realitas yang terjadi. Hal ini akan menjadi masalah dan mengganggu pikiran.Seseorang yang kuat mentalnya, mungkin bisa menerima dan tabah. Namun, bagi yang tidak kuat, bisa frustrasi, bahkan depresi, bersikap apatis terhadap makna yang terjadi. Padahal, di setiap peristiwa, banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran untuk kehidupan mendatang.Ikhlas adalah jalan untuk menghindari frustrasi akibat harapan yang tak sesuai kenyataan. Tapi, ikhlas dalam konteks ini bukanlah ikhlas yang menerima apa adanya.
Ikhlas di sini adalah mengakui suatu kejadian pahit, sebagai rangkaian dari hidup yang kita jalani.Jika ikhlas diartikan demikian, untuk bangkit dari suatu keterpurukan tidaklah sulit. Bahkan, dengan bermodalkan pengalaman sebelumnya, kita bisa melangkah pasti dengan menjadikan pengalaman itu sebagai rambu-rambu dalam mengambil keputusan hidup.''Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.'' (QS Annisa [4]: 146).
Keikhlasan untuk menerima suatu kejadian pahit juga harus ditopang dengan sikap memaafkan. Karena dengan memaafkan, hati ini akan terasa lega. Apa pun kejadiannya, insya Allah semua akan kembali seperti sedia kala.Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Suatu sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah tidak akan menambah kepada seorang hamba yang suka memberi maaf kecuali kemuliaan, dan seseorang tidak merendahkan diri karena Allah kecuali Allah mengangkat orang tersebut.'' (HR Muslim).
Sesungguhnya, suatu kejadian dalam hidup, entah itu baik ataupun buruk tergantung dari penilaian kita. Oleh karenanya, ketika suatu kejadian yang dinilai pahit itu datang, hendaklah kita memaafkan dan mengikhlaskan kejadian itu. Dan, kita harus menerima karena itu bagian dari hidup yang dijalani.Insya Allah, jika demikian, hati akan tenang dan jauh dari frustrasi bahkan depresi.
Dan, nantinya tidak akan ada satu pun calon anggota legistatif yang depresi akibat tidak terpilih. Mereka akan bangkit serta membangun bangsa ini menjadi maju, walaupun tidak duduk di parlemen.(agus setyadi/rep)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar